Pendidikan
kejuruan hadir sebagai wahana dalam upaya memfasilitasi berkembangnya kemampuan
siswa dalam melakukan sinergi secara komperhensif dan produktif antara keterampilan
how to think, how to learn, dan how to create untuk dapat berperan
sebagai pencipta lapangan kerja (job
creator) yang professional, pencari kerja (job seeker) yang kompetitif atau sebagai individu atau kelompok
yang memiliki daya enduransi yang tinggi dalam berkompetisi (high degree pursuer) (Mukhadis,
2013:7-8).
Makna
Keterampilan how to think, how to learn, dan
how to create
1)
How to think
How to think
merupakan keterampilan berpikir dalam melihat sebuah permasalahan dari berbagai
sudut pandang. Keterampilan ini merupakan prasyarat bagi terbentuknya
keunggulan kemampuan dalam mengidentifikasi, menganalisis, memahami dan
menetapkan skala prioritas alternatif pemecahan masalah yang dihadapi secara
efektif dan efisien (Mukhadis, 2009:226). How
to think dapat dikerucutkan menjadi 3 pendekatan kemampuan berpikir yaitu
kemampuan berpikir kritis (analitik),
sintetik (kreatif) dan praktikal.
Berpikir
kritis memiliki representasi sebagai keterampilan analisis dan evaluasi ide
(Naqiyah, 2005). Keterampilan ini lebih berorientasi pada kemampuan
menganalisis dan berpikir kritis terhadap suatu fenomena (masalah). Kemampuan
berpikir sintetik merupakan kemampuan membangkitkan ide baru dan menarik, lebih
berperan dalam penemuan terhadap alternatif pemecahan masalah yang belum
dikenal sebelumnya (berpikir kreatif). Sedangkan kemampuan berpikir praktikal
merupakan kemampuan menerjemahkan teori ke dalam praktek, dan merubah ide-ide
abstrak ke arah kecakapan praktikal. Kemampuan praktikal juga mempunyai arti
sebagai kemampuan melaksanakan alternatif pemecahan masalah yang telah
ditemukan, dinilai khalayak, diberi masukan, dan bagaimana kita menyikapi
terhadap masukan.
2)
How to Learn
Pendidikan
kejuruan berfungsi sebagai wahana dalam upaya memfasilitasi berkembangnya proses
belajar dan berbuat (learning by doing)
dengan mengacu pada ritme dialektika sesuai bidang kejuruan yang ditekuni.
Keterampilan dalam belajar (how to learn)
menjadi sangat penting sebagai langkah dalam mencari, memanfaatkan dan
mengembangkan informasi yang unggul.
Keterampilan
tersebut ini direpresentasikan dalam kemampuan melakukan aktivitas learning,
unlearning,
dan relearning
(Harefa, 2010) yang berlangsung sepanjang waktu dimana berada dan bekerja.
Karena itu, belajar (learning) akan
mengajari seseorang untuk tidak pernah berhenti berpikir. Namun karena
dialektika otak dan hati selalu terjadi, secara psikologis adakalanya manusia
merasa puas dan merasa sudah menjadi seperti yang mereka harapkan. Pada posisi
dan situasi itulah terjadi yang disebut sebagai unlearning.
Ketika
otak merasa puas dan berhenti berpikir, manusia bisa saja terperosok ke dalam
sebuah dunia lain sehingga dia bertindak tanpa memikirkan risiko dan akibat
yang akan ditimbulkannya. Perilaku menyimpang merupakan gambaran bahwa manusia
bisa mengalami fase unlearning.
Secara ekstrem, gambaran perilaku menyimpang seperti teroris dan koruptor
merupakan beberapa contoh bahwa manusia bisa terjebak ke dalam perilaku unlearning (Baedowi, 2012).
Namun
jika hati seseorang dapat menuntun lagi kerja otak untuk mulai berpikir dan
belajar kembali, fase semacam itu disebut relearning.
Untuk kembali belajar (relearning),
seseorang tidak hanya membutuhkan tuntunan hatinya, tetapi juga dukungan
lingkungannya. Itulah sebabnya untuk kasus-kasus tertentu seperti para bekas
teroris, diperlukan sebuah proses belajar kembali dengan cara memberi mereka
dukungan untuk kembali kepada habitat dan masyarakat.
Dalam
konteks belajar-mengajar, proses relearning
juga sejalan dengan prinsip re-education,
sebuah basis filosofis untuk bekerja dengan orang-orang yang mengalami
gangguan, baik secara emosi maupun perilaku (a philosophical basis for working with person who has emotional and/or
behavioral disorders). Dalam proses re-edukasi, mengembalikan mentalitas
lama ke dalam pembentukan mentalitas baru yang sesuai dengan kondisi normal
lingkungan masyarakatnya ialah imperatif (Baedowi, 2012)..
Keterampilan
belajar bukan keterampilan tunggal tetapi merupakan garis kontinum yang bermula
dari titik awal kehidupan dan berakhir pada akhir hidup itu sendiri. Learning to learn (how to learn) tumbuh dari sinergi antara intelektual dan moral yang
berekspresi dari hasil belajar otentik (actual
outcomes). Anwar mengatakan bahwa belajar untuk tahu (learning to know) menjadi basis bagi belajar untuk dapat melakukan
(learning to do); belajar untuk dapat
melakukan merupakan basis bagi belajar untuk mandiri (learning to survive); belajar untuk mandiri merupakan basis bagi
belajar untuk bekerja sama (learning to
cooperate) (2006:5).
Tujuan
akhir dari keterampilan belajar ialah dimilikinya kemampuan memecahkan masalah
secara bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan akhir keterampilan belajar,
maka lebih dahulu melalui dua tujuan yaitu: (1) mampu mengenali hakikat diri,
potensi dan bakat-bakatnya dan (2) dapat berusaha sekuat tenaga untuk
mengaktualisasi segenap potensi, mengekspresikan dan menyatakan dirinya
seutuhnya denga cara menjadi dirinya sendiri (Anwar, 2006:9).
3)
How to Create
Pendidikan
kejuruan merupakan wahana dalam upaya memfasilitasi proses kreasi pencapaian
sesuatu yang menghasilkan suatu barang, jasa, model atau prototipe yang
bernilai tambah (added value) secara
ekonomi, bukan sekedar hanya berperan sebagai konsumen atau sekedar sebagai user dari suatu produk yang lain dalam
bidang yang relevan (Mukhadis, 2013:7). Untuk dapat memberikan nilai tambah
tersebut, pendidikan harus mampu memfasilitasi sinergisitas keterampilan siswa
(how to think dan how to learn) sebagai pendorong
tumbuh-kembangnya kemampuan untuk berkreasi atau mencipta (how to create) baik secara individu, kelembagaan maupun industri
bukan malah tertarik pada budaya mengkonsumsi.
Peradaban
teknologi yang unggul suatu bangsa merupakan representasi dari kemampuan emulasi, dan bukannya sekedar kemampuan
emitasi. Kemampuan emulasi merupakan
prasyarat suatu individu, kelompok, masyarakat, bangsa atau negara untuk
melakukan loncatan dalam pengembangan teknologi sebagai sarana pemecahan
masalah dalam kehidupan. Wujud dari kemampuan ini adalah keunggulan dalam
melakukan sinergi dari berbagai produk teknologi, berbagai informasi, berbagai
jasa, dan berbagai sistem yang mutakhir, menjadi suatu sosok produk, sosok
informasi, sosok sistem, dan dan sosok jasa yang lebih baru, memiliki nilai
tambah dan memiliki keunggulan kompetitif.






0 comments:
Post a Comment